Pemanfaatan Teknologi Informasi (TI)
membantu suatu perusahaan untuk dapat mencapai tujuan organisasi yaitu sebuah
keberhasilan. Namun, beberapa perusahaan tidak mampu secara maksimal
memanfaatkan adanya teknologi informasi tersebut.
Paradox
sendiri adalah suatu situasi yang timbul dari sejumlah premis (apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan
kemudian; dasar pemikiran; alasan; (2) asumsi; (3) kalimat atau proposisi yg
dijadikan dasar penarikan kesimpulan di dalam logika), yang diakui kebenarannya
yang bertolak dari suatu pernyataan dan akan tiba pada suatu konflik
atau kontradiksi. Sebuah 'paradoks adalah sebuah pernyataan yang betul atau sekelompok pernyataan yang menuju ke sebuah kontradiksi
atau ke sebuah situasi yang berlawanan dengan intuisi. Biasanya, baik
pernyataan dalam pertanyaan tidak termasuk kontradiksi, hasil yang
membingungkan bukan sebuah kontradiksi, atau "premis"nya tidak
sepenuhnya betul (atau, tidak dapat semuanya betul). Pengenalan ambiguitas, equivocation, dan perkiraan yang tak diutarakan di paradoks yang
dikenal sering kali menuju ke peningkatan dalam sains, filsafat, dan matematika.
Kegagalan
dalam memanfaatkan TI terjadi karena kesalahan dalam pengelolaan TI itu
sendiri. Kegagalan dalam TI umumnya terjadi karena proses perencanaan dan
analisis masalah yang salah sehingga pengembangan IT kedalam perusahaan menjadi
tidak berhasil. Tidak sedikit perusahaan yang mengalami kegagalan dalam
implementasi teknologi informasi (TI) atau sistem teknologi informasi (STI),
termasuk juga yang berkaitan dengan sistem informasi akuntansi. Ada beberapa
penyebab yang dapat ditelusuri. Secara garis besar ada yang bersifat teknis dan
non-teknis. Sisi teknis berkaitan dengan teknologi yang berada di belakang
sistem tersebut, sementara sisi non teknis berada pada aspek keperilakuan dan
managerial dalam penggunaan sistem tersebut. Tidak hanya itu faktor Leadership juga memainkan peranan yang
penting. Keterlibatan dan partisipasi manajemen puncak akan sangat menentukan
keberhasilan implementasi IT. Perubahan dari perusahaan yang bahkan belum
memakai IT menjadi memakai IT mengakibatkan perubahan struktur organisasi
perusahaan, memakan waktu yang tidak sebentar, beresiko dan mahal. Terlebih
jika terjadi kesalahan dalam pengelolaan IT yang mengakibatkan kerugian bagi
perusahaan. Namun dengan adanya pemanfaatan IT yang benar dalam perusahaan akan
memberikan keberhasilan berupa keuntungan bagi perusahaan. Pengukuran
kesuksesan IT tidak hanya diukur dari sisi keuangan, namun juga diukur dari
sisi non keuangan seperti kepuasan pelanggan, kepuasan karyawan,akurasi proses
bisnis,loyalitas pelanggan, kepercayaan pelanggan dan lain sebagainya. Hal ini
tidak bisa terbayarkan dengan apapun tetapi merupakan manfaat tidak nyata bagi
perusahaan untuk terus dapat bertahan dan berkembang.
Penelitian
empiris menunjukkan kegagalan dalam implementasi STI (sistem teknologi
informasi) terjadi karena dalam pengelolaan STI itu sendiri dan tidak ada
ukuran yang jelas bagaimana mengukur kesuksesan implementasi STI. Kegagalan dalam
STI umumnya terjadi karena proses perencanaan dan analisis masalah yang salah
sehingga hasil pengembangan STI kedalam perusahaan menjadi tidak berhasil.
Faktor kepemimpinan juga memainkan peranan yang amat penting. Beberapa studi
yang berkaitan dengan hal tersebut menemukan terdapat keterkaitan yang erat
antara kesuksesan implementasi STI dengan hubungan eksekutif yang didalamnya
melibatkan CEO dan CIO. Berkaitan dengan adanya kesalahan dalam pengelolaan dan
pengukuran kesuksesan implementasi STI, pemikiran mengenai tata kelola
teknologi informasi (IT governance)
kini berkembang. Ada beberapa definisi yang berkaitan dengan masalah ini.
Menurut
Ross & Well (2004), tata kelola IT sebagai spesifikasi atas rangka dalam
pengambilan keputusan pendelegasian wewenang dan akuntabilitas untuk mendorong
perilaku yang diinginkan dalam penggunaan teknologi informasi. Definisi ini
lebih menekankan pada sistem dan proses dalam pengambilan keputusan yang
berhubungan dengan kesuksesan dalam penggunaan tekhnologi. Definisi lainnya
yang lebih luas dikemukakan oleh The IT Governance Institude (ITGI), tata
kelola TI didefinisikan sebagai tanggung jawab eksekutif dan dewan komisaris
yang melibatkan kepemimpinan,struktur organisasional dan proses untuk
meyakinkan keberlanjutan IT, pencapaian strategi dan tujuan perusahaan.
Salah satu contoh yang memiliki dampak IT Paradox yaitu : Amazone.com.
atas keberhasilannya dalam memanfaatka IT. Jeff Bezos CEO Amazon.com memiliki 3
hal utama yang penting yaitu teknologi,teknologi,teknologi. Seluruh gudang yang
dimiliki Amazon.com terkomputerisasi mulai dari pemesanan,pengambilan barang
pemesanan, pengiriman barang sampai dengan kesalahan pengepakan barang pesanan.
Jeff Bezos membuat keputusan bukan dari penilaian dan pendapatan namun dengan
menggunakan data yang ada. Jeff Bezos memilki 300 grafik dalam seminggu hanya
untuk divisisinya saja yang membantunya untuk membuat keputusan. Jeff Bezos jg
merangkul pesaingnya untuk bersama-sama menjual produknya baik produk baru
maupun bekas dalam halaman web yang sama. Sehingga para pelanggan dapat dengan
bebas untuk membandingkan sendiri harga dari amazon dan dari penjual lainnya
sekaligus member pilihan untuk membeli barang baru atau bekas dalam satu
tampilan. Data yang dimilki Jeff Beos menunjukkan bahwa para pelanggan yang
membeli buku bekas dari Amazon akan terus membeli lebih banyak buku daripada
yang pernah mereka beli sebelumnya.
IT Paradox download
IT Paradox download
Tidak ada komentar:
Posting Komentar