Kamis, 15 Maret 2012

IT Paradox


            Pemanfaatan Teknologi Informasi (TI) membantu suatu perusahaan untuk dapat mencapai tujuan organisasi yaitu sebuah keberhasilan. Namun, beberapa perusahaan tidak mampu secara maksimal memanfaatkan adanya teknologi informasi tersebut.

Paradox sendiri adalah suatu situasi yang timbul dari sejumlah premis (apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan kemudian; dasar pemikiran; alasan; (2) asumsi; (3) kalimat atau proposisi yg dijadikan dasar penarikan kesimpulan di dalam logika), yang diakui kebenarannya yang bertolak dari suatu pernyataan dan akan tiba pada suatu konflik atau kontradiksi. Sebuah 'paradoks adalah sebuah pernyataan yang betul atau sekelompok pernyataan yang menuju ke sebuah kontradiksi atau ke sebuah situasi yang berlawanan dengan intuisi. Biasanya, baik pernyataan dalam pertanyaan tidak termasuk kontradiksi, hasil yang membingungkan bukan sebuah kontradiksi, atau "premis"nya tidak sepenuhnya betul (atau, tidak dapat semuanya betul). Pengenalan ambiguitas, equivocation, dan perkiraan yang tak diutarakan di paradoks yang dikenal sering kali menuju ke peningkatan dalam sains, filsafat, dan matematika.


Kegagalan dalam memanfaatkan TI terjadi karena kesalahan dalam pengelolaan TI itu sendiri. Kegagalan dalam TI umumnya terjadi karena proses perencanaan dan analisis masalah yang salah sehingga pengembangan IT kedalam perusahaan menjadi tidak berhasil. Tidak sedikit perusahaan yang mengalami kegagalan dalam implementasi teknologi informasi (TI) atau sistem teknologi informasi (STI), termasuk juga yang berkaitan dengan sistem informasi akuntansi. Ada beberapa penyebab yang dapat ditelusuri. Secara garis besar ada yang bersifat teknis dan non-teknis. Sisi teknis berkaitan dengan teknologi yang berada di belakang sistem tersebut, sementara sisi non teknis berada pada aspek keperilakuan dan managerial dalam penggunaan sistem tersebut. Tidak hanya itu faktor Leadership juga memainkan peranan yang penting. Keterlibatan dan partisipasi manajemen puncak akan sangat menentukan keberhasilan implementasi IT. Perubahan dari perusahaan yang bahkan belum memakai IT menjadi memakai IT mengakibatkan perubahan struktur organisasi perusahaan, memakan waktu yang tidak sebentar, beresiko dan mahal. Terlebih jika terjadi kesalahan dalam pengelolaan IT yang mengakibatkan kerugian bagi perusahaan. Namun dengan adanya pemanfaatan IT yang benar dalam perusahaan akan memberikan keberhasilan berupa keuntungan bagi perusahaan. Pengukuran kesuksesan IT tidak hanya diukur dari sisi keuangan, namun juga diukur dari sisi non keuangan seperti kepuasan pelanggan, kepuasan karyawan,akurasi proses bisnis,loyalitas pelanggan, kepercayaan pelanggan dan lain sebagainya. Hal ini tidak bisa terbayarkan dengan apapun tetapi merupakan manfaat tidak nyata bagi perusahaan untuk terus dapat bertahan dan berkembang.

Penelitian empiris menunjukkan kegagalan dalam implementasi STI (sistem teknologi informasi) terjadi karena dalam pengelolaan STI itu sendiri dan tidak ada ukuran yang jelas bagaimana mengukur kesuksesan implementasi STI. Kegagalan dalam STI umumnya terjadi karena proses perencanaan dan analisis masalah yang salah sehingga hasil pengembangan STI kedalam perusahaan menjadi tidak berhasil. Faktor kepemimpinan juga memainkan peranan yang amat penting. Beberapa studi yang berkaitan dengan hal tersebut menemukan terdapat keterkaitan yang erat antara kesuksesan implementasi STI dengan hubungan eksekutif yang didalamnya melibatkan CEO dan CIO. Berkaitan dengan adanya kesalahan dalam pengelolaan dan pengukuran kesuksesan implementasi STI, pemikiran mengenai tata kelola teknologi informasi (IT governance) kini berkembang. Ada beberapa definisi yang berkaitan dengan masalah ini.
Menurut Ross & Well (2004), tata kelola IT sebagai spesifikasi atas rangka dalam pengambilan keputusan pendelegasian wewenang dan akuntabilitas untuk mendorong perilaku yang diinginkan dalam penggunaan teknologi informasi. Definisi ini lebih menekankan pada sistem dan proses dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kesuksesan dalam penggunaan tekhnologi. Definisi lainnya yang lebih luas dikemukakan oleh The IT Governance Institude (ITGI), tata kelola TI didefinisikan sebagai tanggung jawab eksekutif dan dewan komisaris yang melibatkan kepemimpinan,struktur organisasional dan proses untuk meyakinkan keberlanjutan IT, pencapaian strategi dan tujuan perusahaan. 

           Salah satu contoh yang memiliki dampak IT Paradox yaitu : Amazone.com. atas keberhasilannya dalam memanfaatka IT. Jeff Bezos CEO Amazon.com memiliki 3 hal utama yang penting yaitu teknologi,teknologi,teknologi. Seluruh gudang yang dimiliki Amazon.com terkomputerisasi mulai dari pemesanan,pengambilan barang pemesanan, pengiriman barang sampai dengan kesalahan pengepakan barang pesanan. Jeff Bezos membuat keputusan bukan dari penilaian dan pendapatan namun dengan menggunakan data yang ada. Jeff Bezos memilki 300 grafik dalam seminggu hanya untuk divisisinya saja yang membantunya untuk membuat keputusan. Jeff Bezos jg merangkul pesaingnya untuk bersama-sama menjual produknya baik produk baru maupun bekas dalam halaman web yang sama. Sehingga para pelanggan dapat dengan bebas untuk membandingkan sendiri harga dari amazon dan dari penjual lainnya sekaligus member pilihan untuk membeli barang baru atau bekas dalam satu tampilan. Data yang dimilki Jeff Beos menunjukkan bahwa para pelanggan yang membeli buku bekas dari Amazon akan terus membeli lebih banyak buku daripada yang pernah mereka beli sebelumnya.

IT Paradox download 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar